RSS

Behind The Story of The Amazing Race UPI 2009 (Part 1)

23 Mar

The Amazing Race UPI 200912:30 PM – July 11, 2009

“Ekhem, ekhem.” Tangan kanan saya sembari memegang-megang leher. Bukan berusaha untuk memberi kode kalau ada yang bening-bening dalam radius 20 meter, tapi saya sedang nyetem suara untuk membuka acara, supaya agak enakan dikit. “Rambut oke, kostum udah kece.” Gumam saya sambil sedikit merapikan kemeja hitam berlengan pendek kebanggaan ‘eSKa’ FM UPI yang baru saja saya dapatkan pagi harinya. Masih bau konveksi.

Sudah ada delapan tim berdiri berjajar di hadapan, empat anak tangga di bawah. Petunjuk  pertama mereka bersandar rapi pada anak tangga di belakang saya. Di belakang atas saya  terdapat spanduk besar yang dominan berwarna hijau bertuliskan The Amazing Race UPI. Tiga meter di kanan dan kiri berdiri bendera hijau-oranye-hijau seukuran dengan spanduk tadi. Bendera-bendera berukuran kecil  berwarna sama yang digunakan sebagai tanda dan petunjuk jalan selama race berlangsung juga sudah disebar di sekitar kampus UPI. Kru-kru yang bertugas sebagai SPOT GUARD dan kru-kru teknis lainnya telah standby di posisinya masing-masing. Maklum, selain sebagai host saya juga bertanggung jawab sebagai project manager dan koordinator acara, jadi semua harus saya cek dengan baik. Oke, semua persiapan sudah matang.

Bersiap untuk memulai narasi pembuka. Oksigen yang terkandung dalam udara segar yang berseliweran hasil dari fotosintesis pepohonan rimbun di sekitar Bumi Siliwangi saya hirup banyak-banyak. Dalam-dalam.

“Kita sedang berada di sebuah monumen besejarah yang letaknya berada di Utara Kota Bandung. Villa Isola, villa yang dulunya menjadi tempat tinggal konglomerat bernama Dominique Willem Berretty ini dibangun pada tahun 1932 sampai 1933.” Saya membuka acara dan berhasil mencuri perhatian tim-tim yang tadinya sedang mengobrol, mereka mulai fokus mendengarkan saya bercerita. Gaya Phil Keoghan yang sudah saya hapal betul diterapkan saat itu. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah saya berjalan beberapa langkah sambil memamerkan kemegahan bangunan kolonial tersebut. “Villa ini merupakan simbol kemewahan dan gemerlap modernitas pada zamannya. Setelah kemerdekaan Indonesia, Villa ini direnovasi dan diganti namanya menjadi Bumi Siliwangi. Pada tanggal 20 Oktober 1954, dr. Yahya A. Muhaimin, Menteri Pendidikan saat itu, mempersembahkan gedung ini sebagai markas besar Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia.” Tangan kanan saya membentang dengan penuh percaya diri. Kertas contekan narasi saya pindahkan ke tangan kiri.

PIT START Bumi Siliwangi (Villa Isola)

“Dari tempat bersejarah ini, delapan tim akan berlomba. Silakan teman-teman sebutkan nama dan dari Radio Kampus mana.” Saya memulai dari tim yang ada di paling kiri saya. “Tim pertama.” Saya mempersilakan. Tiap tim kemudian memperkenalkan nama anggotanya masing-masing dan asal Radio Kampusnya. Ada yang gayanya cool, ada yang gayanya kocak. Tak bisa terelakkan, hingga selesai sesi perkenalan, gelak tawa sering pecah.

Gesture dan gaya berbicara Allan Wu juga saya tiru. Iya sih, tak akan bisa sama persis. Badan saya tak sebesar Allan, suara saya juga tidak bulat dan ngebas-ngebas amat. Malah cenderung cempreng. Tapi saya tetap pede, kapan lagi bisa merasakan jadi host The Amazing Race, reality show favorit saya. Walau hanya versi UPI, it’s like a dream come true. Adrenalin mengalir deras. Kalau berada di sana, kamu pasti terseret arusnya.

“Dapatkah tim-tim ini bertahan dalam tekanan lomba? Berjalan dan berlari bersama?” Saya melanjutkan dengan raut wajah yang berubah serius campur tegang karena lupa narasi selanjutnya apa. Oh ya. “Menjalani tantangan yang melelahkan?”

“Tim manakah yang memiliki kombinasi strategi, kekuatan, keahlian dan kerjasama tim untuk memenangakan lomba ini?” Tangan kanan saya mengepal  di depan dada. “Selama beberapa jam ke depan, akan kita ketahui. Saat kita bersiap untuk berlomba dalam…” Ada jeda beberapa detik sebelum saya menyelesaikan kalimatnya. Saya buka mata sedikit lebih lebar dari sebelumnya, ditambah anggukan kepala yang mematikan dan menaikan sedikit volume suara. Sambil membentangkan kedua tangan, dangan mantap saya ucapkan bagian pamungkasnya, “…THE AMAZING RACE UPI!” Riuh rendah tepuk tangan dan sorak-sorai seluruh tim dan kru yang berada di sekitar PIT START terdengar. Klimaks pertama tercapai. Senyum puas tergambar jelas di wajah saya. Andai kamu bisa melihatnya.

Nada suara diturunkan, intonasi saya rendahkan. “Sekali lagi saya ucapkan selamat datang di UPI. Beberapa saat lagi kalian akan memulai suatu lomba yang fantastic dalam hidup kalian. Terdapat delapan tempat di UPI yang harus kalian tuju yang disebut SPOT dalam lomba ini. Di tiap spot akan ada tantangan dan permainan yang harus kalian lakukan. Dan ada petunjuk untuk menuju ke setiap spot selanjutnya. Peta dan petunjuk pertama kalian berada di depan.” Tangan kanan saya terbuka dan mengarahkannya ke deretan amplop hijau bertuliskan The Amazing Race UPI, petunjuk pertama mereka, peta UPI di kertas putih yang digulung dengan apik membentuk silinder, dan satu amplop coklat besar yang akan dipergunakan selama lomba berlangsung.

“Saya peringatkan, lomba ini akan sulit. Tapi akan ada hadiah untuk tim yang pertama sampai di FINAL SPOT, yang tentunya memenangkan The Amazing Race UPI. Ada yang ingin ditanyakan?” Saya memastikan seluruh peserta telah mengerti aturan dan apa saja yang harus mereka kerjakan selama lomba. Ya, benar saja. Ada beberapa tim yang belum mengerti penuh. Saya menjelaskan dengan detail sampai semua jelas dan mereka siap untuk berlomba.

Suasana memanas, tentunya selain karena saat itu matahari berada tepat di atas kepala. Semua tim sudah tak sabar untuk memulai race-nya. Saya juga tak sabar untuk melepaskan mereka berlomba dan melihat keseruan-keseruan yang terjadi selama race berlangsung.

Klimaks kedua dimulai “Saat saya bilang GO! Ambil dan baca petunjuk yang ada di belakang saya dan berangkatlah.” Seru saya. “Baiklah. Seluruh UPI dan sekitarnya menunggu kalian.” Inginnya sih menaikkan alis sebelah kiri saya ala Om Phil, tapi saya hanya bisa menghela napas. “Good Luck!” lanjut saya singkat tapi penuh arti.

Foto di awal tulisan ini diambil ketika saya mengucapkan “Semua sudah siap…?” Saya mengacungkan tangan kanan tinggi-tinggi. “READY…” Pandangan saya arahkan pada tiap tim satu per satu, dari ujung ke ujung dengan cepat. Mereka mulai mengambil ancang-ancang. “SET…” Mereka makin membungkuk, kuda-kuda yang makin mantap. Tercipta hening sesaat. Sebutir keringat menetes dari pelipis saya. “GO!!!!!!!!” Teriak saya bersamaan dengan melesat turunnya tangan kanan yang diacungkan tinggi-tinggi tadi.

TARU GO!

To Be Continued…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2013 in Broadcasting, Story, Tourism

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: