RSS

Jurnal Pelatihan Pramuwisata Pelajar Provinsi Banten Tahun 2006 (Part 4: Sweet Seventeen in Baduy)

05 Jan

Jumat, 2 Juni 2006

Pagi ini seperti biasa kami bangun kemudian sholat subuh dan senam pagi bersama. Lalu kami menuju ke Kafe Kalpataru Mas, ini hari terakhir kami sarapan di Kafe ini. Kehangatan susu yang tersedia disini mungkin tidak dapat saya rasakan lagi tapi kehangatan persahaban ini akan terus terasa sampai nanti. Tsahhh…

Setelah mandi dan mengepak semua barang kami berempat bergabung dengan teman sebelah kamar untuk bersama-sama pergi menuju bus yang sudah menunggu. Setelah Check Out dari Patra Jasa, Bus berangkat pukul 9 pagi menuju destinasi berikutnya, Baduy. Tidak semua teman bisa ikut, karena satu dan lain hal beberapa peserta pulang tanpa mengikuti perjalanan berikutnya.

Praktek Pemanduan dalam Bus

Diadakan kembali praktek pemanduan selama perjalanan dalam bus, kali ini dalam bus betulan. Setiap kelompok diminta perwakilannya untuk maju kedepan menerangkan tempat yang sedang dilewatinya. Giliran kelompok 4 pun tiba. Kali ini saya mencoba memberanikan diri saya untuk maju ke depan. Bus sedang berjalan melewati kawasan pusat perbelanjaan Kota Cilegon, maka saya menerangkan sedikit tentang tempat itu ditambah dengan penjelasan potensi daerah lainnya di Banten. Dalam bus yang bergoncang, saya kerap kali akan terjatuh karena ketidakseimbangan saya, untung saya bisa menahannya sebelum saya beneran terjatuh. Setelah cukup lama saya berdiri dan menerangkan di depan, saya duduk kembali dengan sedikit perasaan lega. Sampai di Kramat Watu, bus belok kiri karena kita akan melewati beberapa tempat bersejarah yang biasa dijadikan sebagai tempat wisata.

Tempat yang pertama kita lewati adalah Tasikardi. Dulunya tempat ini digunakan untuk irigasi sawah, persediaan air dan wisata. Sebagai bukti dulunya ini adalah persediaan air, ada saluran air dari tempat ini menuju Kraton Surasowan. Sebelum sampai ke Kraton, air itu disaring terlebih dahulu di 3 Pengindelan (Penyaringan) yaitu pengindelan abang, pengindelan putih dan pengindelan emas. Air yang sudah melewati pengindelan emaslah yang sudah bisa dikonsumsi.

Pemberhentian selanjutnya adalah Vihara Avalokitesvara, sebelumnya kita berhenti sebentar di Mesjid Pacinan untuk melihat dari dalam bus. Sesampainya kami di Vihara, kami segera masuk dan melihat-lihat keadaan disana. Saya merasa bukan berada di Indonesia, soalnya saya biasa melihat Vihara seperti ini di TV dalam film Vampire atau dalam liputan dari luar negeri. Ternyata di Banten juga ada bangunan megah tempat peribadatan umat Budha seperti ini.

Avalokitesvara

Setelah mendengarkan penjelasan dari pengurus Vihara, kami berangkat menuju Mesjid Agung Banten untuk Sholat Jumat. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Kantor Gubernur Banten dengan maksud menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah Gempa Bumi di Yogyakarta. Dengan menggunakan bus, perjalanan berlanjut ke tempat tujuan kita yaitu Baduy. Medan yang ditempuh cukup berat dan tidak bisa dilewati menggunakan bus besar yang kita naiki sampai tempat tujuan, maka di tengah perjalanan kami pindah mobil, jadi mobil PS.

sekitar pukul 7 malam kami tiba di Ciboleger, stasiun terakhir yang sudah masuk kawasan Baduy Luar. Langsung menuju rumah penduduk Baduy yang akan kami tempati. Diantara kegelapan malam kami melakukan aktifitas, ada yang mandi atau sekedar berbincang sambil melepas lelah. Penduduk setempat seharusnya memang sudah beristirahat, tidak banyak kegiatan yang dilakukan penduduk dimalam hari. Setelah makan malam kami beristirahat agar besok badan segar kembali karena akan menempuh perjalanan jauh menuju Baduy Dalam, tepatnya Desa Cibeo. Ditemani remang-remang lampu tempel kami berbincang sambil menunggu rasa kantuk yang belum kunjung datang.

Sabtu, 3 Juni 2006

Baduy Luar

Pagi yang dingin ini lebih dingin dari suasana pagi di Pandeglang. Alam pegunungan disekitarnya yang masih terjaga dengan baik dan hutan-hutan yang mengeluarkan Oksigen di pagi hari membuat tubuh saya super segar. Udara bersih yang berkualitas seperti ini jarang bisa didapatkan di kota-kota yang sudah banyak terjadi polusi udara. Airnya juga dingin sekali. Brrr… Saya mandi membersihkan tubuh. Segar dan siap untuk menempuh perjalanan berat dan jauh.

Seharusnya kami berangkat ke Baduy Dalam sebelum matahari terbit, tapi pagi itu kami diserbu suatu pasukan yang menghambat perjalanan kami. Pasukan tersebut membawa barang dagangnnya berupa cindramata khas baduy, dari kaos sampai gantungan kunci ditawarkannya pada kami. Sudah barang tentu kami tidak bisa menolak untuk melihat-lihat dan memilih-milih untuk buah tangan orang rumah. Apalagi perempuan-perempuan yang asik masyuk memilih belanjaan sambil tawar-menawar harga hingga membuat perjalanan kami tertunda sekitar 2 jam.

Pose sebelum ke Baduy Dalam

Baru setelah sarapan pagi, sekitar pukul 7:30 kami mulai perjalanan. Dijalur pintu masuk perkampungan Baduy Dalam yang bercabang 2 kami berpose bersama terlebih dahulu karena di Baduy Dalam nanti kita tidak boleh mengambil gambar sedikit pun. Jangankan mengambil gambar, mengaktifkan hp pun sebaiknya tidak dilakukan. Kalau cuma bawa sih boleh. Dua tahun yang lalu saya pernah kesini bersama anggota OSIS SMANSIX dalam acara Saba Baduy. Kali itu saya bersama rombongan melewati jalan kiri tapi kali ini kami mengambil jalan kanan.

Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata! Mungkin itulah gambaran yang tepat. Kami melewati banyak turunan dan tanjakan. Ditambah kondisi tanah yang agak licin membuat kami harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Di beberapa tempat kami berhenti untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Ahmad Yani yang memandu kami. Salah satunya kami berhenti ditempat yang banyak bangunan menyeruapai rumah berukuran kecil yang disebut Leuit. Berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil panen masyarakat. Desain dan bentuk unik Leuit ternyata memiliki fungsi untuk melindungi hasil panen yang ada didalamnya dari hewan pengerat seperti tikus.

Perjalanan masih panjang. Beberapa sungai kecil kami lewati, air jernih dengan suara gemericiknya sedikit mengurangi rasa lelah. Alam disini sangatlah terawat, karena disini kita tidak boleh menggunakan sabun dan bahan kimia olahan lain yang biasa kita pakai sehari-hari dirumah, sehingga keseimbangan alamnya masih sangat terjaga. Di suatu perkampungan rombongan kami terpisah menjadi dua. Rute yang seharusnya belok, karena jarak yang cukup jauh akhirnya ditempuh lurus oleh rombongan dibelakang. Tapi setelah berapa lama rombongan bertemu kembali. Kami beristirahat beberapa kali sepanjang perjalanan, ditengah tanjakan, di ujung tanjakan, di rumah penduduk atau di sungai kecil, kami pergunakan kesempatan ini untuk menghilangkan sedikit rasa pegal dan lelah di kaki. Tebing curam, jalan setapak dibawah rimbunan pohon besarpun dilewati. Saat tiba di salah satu puncak bukit, pemandangan indah yang tersaji dari atas bukit ini bisa menentramkan hati dan pikiran. Breathtaking view…

Hampir empat jam perjalanan telah kami tempuh, matahari segera berada tepat di atas kepala. Setelah melewati jembatan, sampailah kami di jalur tanjakan mengerikan yang sejak tadi ditunggu-tunggu. Jalur ini dijuluki tanjakan Lillahitaa’la… Kira-kira 500 meter panjangnya dengan kemiringan sekitar 20 sampai 40 derajat. Membutuhkan tekad, ketahanan fisik dan mental yang cukup besar untuk melewatinya. Sempat berhenti ditengah tanjakan karena kelelahan dan sebentar memalingkan pandangan kearah bukit-bukit yang terhampar ditutupi pepohonan rimbun, mengumpulkan tenaga sambil menghela napas, lalu menambah semangat saya untuk segera sampai di puncak, akhir dari tanjakan ini.

“Cape banget!” Kata-kata itulah yang banyak diucapkan oleh teman-teman sambil beristirahat di rumah kecil di puncak bukit “Lillahitaa’la”. Sambil minum dan mengipas-ngipasi badan yang berkeringat kami duduk-duduk menghilangkan rasa lelah. Kami sudah memasuki kawasan baduy dalam, sebentar lagi kami kami sampai di Cibeo, perkampungan Baduy dalam yang kami tuju.

Alhamdulillahirobbilalamin! Akhirnya kami sampai di Cibeo. Kami disambut oleh beberapa penduduk Baduy dalam. Segera kami menuju salah satu rumah penduduk yang dipergunakan kami untuk beristirahat. Yang pasti sudah tengah hari, kami beristirahat dengan tidur-tiduran, eh ternyata saya malah tidur beneran. Badan segar kembali setelah bangun tidur. Saya pergi ke sungai untuk cuci muka menghilangkan rasa kantuk yang masih tertinggal. Sekembalinya dari sungai makan siang sudah tersaji. Mie Goreng, nasi dan ikan asin terasa nikmat di perut yang lapar ini. kami semua makan dengan lahap. Kami tahu, perjalanan untuk kembali masih panjang. Perut terasa kenyang. Setelah selesai mengeksplorasi kekhasan Baduy Dalam dan kebiasaan-kebiasaan unik penduduknya, kami bersiap untuk kembali pulang. Sementara itu cuaca diluar mendung, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.

Hal yang tidak diinginkanpun terjadi. Hujan turun dengan lebatnya. Terpaksa kami menunda perjalanan pulang beberapa saat, menunggu hujan reda. Menit demi menit berlalu. Kenyataan berbicara lain, hujan tak kunjung reda. Diputuskanlah untuk tetap melanjutkan perjalanan walau hujan masih mengguyur. Hp dan dompet dititipkan di tas milik Novi yang saya bawa pada perjalanan awal, bahkan ada yang menitipkan daun, sandal, jam, sweeter bahkan batu pun masuk dalam tas yang saya bawa itu. Tak ayal tas itu pun putus di perjalanan pulang saking beratnya barang-barang yang ada di dalamnya. Sementara yang lain membawa ranting kayu sebagai penopang tubuh di jalan yang licin, saya harus membawa tas yang putus itu. Untungnya ada teman yang bersedia memanggul tas itu sehingga beban saya agak berkurang. Tapi sebagai gantinya saya harus memegangi teman perempuan lain agar tidak terjatuh. Pada awal perjalanan pulang itu saya masih mengenakan sepatu, setelah melihat jalan yang sangat licin saya putuskan untuk membuka sepatu saya. Di jalan menurun yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu sebentar menjadi lama karena keadaan jalan yang licin akibat diguyur hujan. Walaupun sekarang hujan sudah reda, medan yang bertambah berat menjadi konsekwensinya. Belum lagi matahari yang sudah condong ke barat membuat perjalanan semakin menegangkan. Sempat terpeleset beberapa kali membuat celana saya yang basah karena hujan menjadi kotor dan berat. Eha, Anisa dan Rina sempat saya bantu menghadapi jalan setapak yang licin. Karena saya berjalan dengan cepat, mereka sering protes pada saya. Seperti perjalanan awal kami terpisah lagi. Kali ini bukan karena salah ambil jalan, tapi karena jarak yang terlalu jauh antar kelompok, dan sekarang saya berada di rombongan terakhir.

Malam sudah menjelang tapi kami masih berada dalam lebatnya hutan Baduy. Suasana mencekam mulai menyelimuti. Saya mengambil hp saya untuk menggunakan senter yang dipakai untuk menerangi jalan setapak yang kami lewati. Langkah demi langkah kami tempuh menembus hutan di kegelapan malam. Batre hp saya habis sehingga kami mengandalkan remang sinar bulan dan perasaan kami untuk berjalan. Lewat dari jalan yang licin, batu-batu yang tajam menusuk-nusuk kaki saya, saya berusaha menahan rasa sakitnyanya. Saya tidak akan melupakan pengalaman ini, sangat berkesan dan melelahkan. Inilah yang saya katakan lebih melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Setelah lama berjalan, kami melewati danau kecil yang disana terdapat beberapa penduduk yang sedang mencari ikan. Saya tidak bisa melihat sosok manusianya, hanya terlihat sinar lilin yang digunakan sebagai alat bantu penerangan. Ya! Saya yakin mereka itu manusia. Ketika saya kesini beberapa tahun yang lalu, saya menikmati makan siang di tepi danau ini tetapi karena sekarang sudah gelap kami tidak bisa menikmati keindahan danau tersebut, hanya terdengar suara kodok dan jangkrik sahut-menyahut menghiasi malam ini. Ayo terus maju. Sambil komat-kamit berdoa memohon perlindunganNya agar dituntun dan selamat sampai tujuan. Khawatir juga kalau tiba-tiba ada sosok makhluk yang aneh-aneh menghadang perjalanan kami. Serem!

Sinar lampu-lampu tempel perkampungan Baduy Luar mulai terlihat. Terharu. Berkaca-kaca. Perasaan senang bercampur lelah campur aduk saya rasakan ketika sampai di tempat kami berpose tadi pagi. Perjalanan jauh yang berubah mencekam itu pun jadi happy ending…

Minggu, 4 Juni 2006

“Tujuh belas ribu lima ratus aja deh, Bu !” saya berusaha menawar satu stel kaos untuk adik saya di rumah. Setelah cukup lama bernegosiasi, akhirnya si ibu pejaga toko cinderamata khas Baduy itu pun memberikannya. Syukurlah saya bisa membelikan oleh-oleh untuk adik saya. Tak lupa kaos khas Baduy untuk saya dan Ibu saya turut di beli. Dengan sedikit tergesa-gesa karena akan kembali pulang saya memilih-milih baju yang saya beli. Karena kami akan berangkat pulang setelah sarapan pagi sekitar pukul delapan.

Sekembalinya berbelanja teman-teman yang lain sudah berkumpul untuk mendengarkan pengarahan terakhir tentang tugas yang harus dikerjakan ini.

Satu hal lagi, hari ini tanggal 4 Juni merupakan hari ulang tahun saya. Yang ke-17 pula! Wah! Sangat mengesankan dan menyenangkan bisa sweet seventeen-an di Baduy. Dengan kawan-kawan baru dan pengalaman yang seru!

The End.

[First published as Tourguide Journal Assignment for HPI on June 24, 2006]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in Story, Tour Guide, Tourism

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: